You are here : 

Buku 9 l Topeng Kaca 9

09.gif

Sepuluh hari sudah Senyum Sang Batu dipentaskan, dan sepuluh hari itu juga Maya berperan sebagai boneka, sungguh sebuah lakon yang melelahkan. Namun usahanya tidak sia-sia, penonton makin membludak, dan akhirnya nama Maya diikutsertakan dalam 15 peserta audisi Hellen Keller yang akan dipentaskan Daito. Diam-diam Masumi tersenyum puas ketika tahu akan hal ini.

Ryo Majima yang datang setiap hari ke pentas Maya, akhirnya menyatakan perasaannya. Maya yang masih mengharapkan Koji – yang ternyata tak datang satu kalipun – menolaknya, dan rasa kecewanya semakin menjadi-jadi. Sugiko, puteri pemilik restoran mie tempat Ibu Maya bekerja, datang menemui Maya untuk menanyakan keberadaan ibunya. Ibu Maya menghilang dari sanatorium, dan Maya yang syok melihat sosoknya di jalan. Namun ketika akan mengejarnya, ia terhalang lampu merah dan jadwal pementasan terakhir Senyum Sang Batu. Maya yang galau tanpa sadar meneteskan air mata saat pentas, membuat Mayuko sangat gusar. Disuruhnya Maya menenangkan diri dulu, tidak ikut pertunjukan selanjutnya.

Hari-hari selanjutnya dihabiskan Maya untuk berkeliling Tokyo mencari ibunya. Suatu hari ia ditemukan Masumi di salah satu gedung teater Daito yang akan mementaskan sebuah drama, dan kebetulan saat itu ada pemeran yang jatuh dari tangga sehingga tak dapat naik panggung. Pentas akan dimulai sejam kemudian, sehingga Masumi spontan meminta Maya menggantikannya. Kembali Maya berhadapan dengan Ayumi, memerankan Chie, saudara sepupu Ayumi, seorang gadis cucu bangsawan dengan latar belakang jaman Meiji.

Orang-orang teater mengenali Maya sebagai peserta kontes drama nasional di Tokyo yang menyaingi Ayumi dalam Bambu Kuning, hingga perannya dalam Bukit Badai dan Senyum Sang Batu. Dua pemeran yang ingin menjatuhkannya, menukar naskah Maya dengan naskah versi lama. Adegan demi adegan berjalan lancar, hingga tiba adegan ke-4, dimana Maya dibuat terkejut akan perbedaan cerita.

“Kenapa kamu gemetar?” Masumi menegurnya.

“Naskah dan dialognya berbeda!” desis Maya. “Disini, diceritakan ayahku pulang ke rumah!”

Orang-orang terkejut, apalagi nama Chie sudah dipanggil ke panggung. Saatnya Maya muncul. Maya nekad maju, meskipun sama sekali tak tahu dialog dan adegan yang harus dia bawakan. Ayumi kemudian berinisiatif muncul di panggung yang sama. Ia harus membuat Maya mengatakan kalimat kunci untuk menutup babak tersebut. Kembali keduanya bersaing.

Detik demi detik berlalu dengan tegang, orang-orang bingung apa yang akan diperbuat Ayumi. Namun Ayumi memang harus diacungi jempol. Sebagai Tsukiyo, tokoh yang diperankannya, ia mengajak Maya bekerjasama. Diceritakannya latar belakang keluarga itu, sehingga Maya mulai memahami kondisi yang ada, sesuai dengan naskah aslinya. Dibuatnya Maya marah, dengan kata-kata dan akting tajam yang membuat telinga panas. Namun Maya masih ragu. Satu saja kesalahan, selesailah drama itu.

Klimaks terjadi ketika Ayumi mengangkat tangannya dan menampar Maya. Spontan Maya meneriakkan kata-kata kunci yang memang seharusnya ia katakan, “Aku tak mau berada disini lagi!” Selesai adegan, orang-orang berkerumun memuji Ayumi, Maya pun merasa jaraknya dengan Ayumi semakin jauh. Ayumi memang hebat…

Masumi yang menawari mengantar Maya pulang, kembali mendapat protes keras Maya.

“Teaterku bubar dan Ibu Mayuko diopname! Tapi kau masih menginginkan Bidadari Merah!!!”

“Ya, begitulah. Aku tak peduli nasib kalian, dengan cara apapun harus kudapatkan,” sambut Masumi dingin. “Bagaimana? Kau puas?”

Penuh kemarahan, Maya berlari pulang menembus hujan lebat. Masumi sendiri tampak lelah, apalagi kemudian Mizuki menyebutnya panik membela Maya ketika naskahnya tertukar tadi.

“Aku khawatir pertunjukan gagal,” kilah Masumi. “Itu saja,”

Maya memulai hari pertamanya di SMA Hitotsuboshi dan dalam sekejap teman-teman sekelasnya mengenali namanya. Disana ia melihat kakak kelasnya Emi Kanaya yang sedang berlatih di klub drama, yang membuatnya terpesona dengan aktingnya yang luar biasa energik. Tiba-tiba Maya mendapat kiriman mawar jingga lagi dari resepsionis sekolah, dan ketika ia mencoba mencari pengirimnya yang baru saja pergi, ia mendapati mobil Daito di depan sekolah.

Ada Masumi Hayami disini! Begitu kata murid-murid lainnya. Ternyata SMA itu mendapat sumbangan besar dari Masumi Hayami dan banyak aktris Daito disitu. Maya tertegun ketika melihat ke bangku belakang mobil… setangkai mawar jingga tergeletak di bulu binatang pelapis jok belakang. Mawar jingga… kenapa ada disini?

Maya menerobos masuk ruang kepala sekolah, berharap dapat menemui penggemar tanpa namanya disitu. Ternyata hanya ada Masumi Hayami beserta kepala sekolah. Masumi sempat terkejut dengan kata-kata Maya soal mawar jingga di mobilnya, namun dengan cepat ia berkelit, membuat Maya akhirnya meninggalkan ruangan sambil marah-marah seperti biasa. Tawa Masumi terdengar begitu lepas, membuat anak buahnya terheran-heran.

Maya yang masih dilarang pentas oleh Mayuko, kemudian didatangi orang dari Daito untuk audisi Hellen Keller. Maya sempat menolak mentah-mentah, apalagi dendam Teater Mayuko pada Daito sudah menumpuk. Ayumi akan ikut audisi sebagai saingannya, Onoda Hajime menjadi sutradara pentas dan Utako Himekawa, ibu Ayumi akan berperan sebagai Anni Sulivan, guru pribadi Hellen. Sama saja masuk kubu musuh, tak akan ada peluang baginya. Namun Mayuko tak tinggal diam. Ia mengancam akan memecat Maya dari teater karena kesalahannya di Senyum Sang Batu, kecuali bila Maya mau ikut audisi Hellen Keller.

Di saat yang sama, Ayumi memutuskan meninggalkan rumah untuk sementara, tak mau mendapatkan peran Hellen karena ibunya.

Mizuki menyindir Masumi ketika mengabari keikutsertaan Maya dalam audisi. “Bagaimana kalau dikirimi mawar jingga lagi?” Masumi terkesiap.

Lima peserta audisi diperkenalkan: Rena Shiratori dari Teater Kaze, Akiko Hayakawa dari Teater Tenma, Emi Kanaya dari klub drama SMA Hitotsuboshi, Ayumi Himekawa dan tentunya Maya. Maya pun mulai berlatih pada liburan musim panas itu…

Ringkasan sinopsis: Monika Tanu

files/08.gif Buku 8 l Topeng Kaca 8

Full Story
files/09.gif Buku 9 l Topeng Kaca 9

Full Story
 

files/images/banner.jpg

files/images/manga!-urbis-13-march---27-sept.-image-designed-by-tado.-logo-by-john-walsh-(snug-media).jpg

 
   
  TOPENG KACA & MONIKATANU  |  Subscribe Feed    
   
  manga Designed by Monika Tanu. Developed by