Mizuki terpana, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Demikian pula Masumi Hayami. Bagaimana mungkin ibu Maya yang buta itu bisa sampai ke Tokyo, bahkan meninggal di dalam gedung bioskop sambil mendengarkan suara Maya berakting di film Hutan Putih?
Maya sangat terpukul dengan kematian ibunya, padahal pentas Shangrilla tinggal seminggu lagi. Masumi tak mampu membela diri terhadap kemarahan Mizuki, bahkan dalam hati kecilnya semakin muncul perasaan bersalah yang selama ini tak pernah dirasakannya. Maya yang terus-menerus murung dan menangis ternyata dapat berakting di hari gladi resik dengan baik, karena Mizuki menyemangatinya dengan menyediakan kursi khusus di bangku penonton dan meletakkan kotak abu ibunya disana.
Masalah tak selesai sampai disitu, Norie yang tahu latar belakang kematian ibu Maya mulai beraksi. Pura-pura kalut, diajaknya Maya ke sebuah café, menemui seseorang yang mengaku sebagai suster yang merawat ibu Maya di RS Fukui. Sang suster menceritakan segalanya, termasuk peran Masumi dan Daito menghalangi pertemuan Maya dengan ibunya dengan alasan publikasi. “Setelah tahu ini, masa kau masih mau main di panggung? Di panggung milik pembunuh ibumu?” Norie memanas-manasi Maya. Maya terlalu lelah menanggapi, ketika segerombolan geng motor menariknya minum-minum, setengah tersihir ia mengikuti mereka. Ia bahkan tak sadar ketika minumannya diberi obat tidur. Norie dan suster yang ternyata komplotannya itu tersenyum puas. Tengah malam, Mizuki menelepon Masumi soal hilangnya Maya.
Daito mencoba merahasiakan hilangnya Maya dari polisi dan wartawan agar pentas Shangrilla keesokan harinya tak terganggu. Wajah Masumi tampak sangat kusut. Keesokan harinya pukul 10 pagi, orang yang ditugaskan mencari Maya memberi kabar soal terlihatnya Maya di café, dan Masumi tertegun menyadari rahasianya terbongkar.
“Sekarang pasti dia sangat ingin membunuhku… Pasti dia sangat membenciku…” desisnya pelan.
“Rasanya aneh melihat Anda berwajah kusut seperti ini. Baru pertama saya lihat,” Mizuki menanggapi. “Oh tidak! Sudah dua kali. Waktu anak itu diganggu… saat buku naskahnya ditukar orang pada pementasan Muenzakura. Anda begitu panik.
“Direktur Daito yang dingin dan gila kerja. Orang yang tak pernah tahu arti cinta. Tapi kalau menyangkut anak itu, Anda selalu bersikap normal,” imbuh Mizuki lagi. “Hanya untuk anak yang usianya 11 tahun lebih muda…” Masumi tak dapat berkilah apapun.
Jam terus berjalan, hingga pukul setengah tiga sore tetap tak ada kabar soal Maya. Norie dengan licik menghubungi media, mengabari hilangnya Maya sehingga wartawan mulai mencari tahu apa yang sedang terjadi. Masumi yang kalut merasa aneh dengan dirinya.
Aku yang selalu melakukan apapun untuk membuat pekerjaanku berhasil… sekarang betul-betul mengkhawatirkan anak itu sampai tak dapat melakukan apa-apa… kenapa dengan aku ini?
Tiga jam sebelum pementasan, pukul tiga sore, akhirnya ada kabar soal geng berandalan yang membawa Maya. Masumi bergegas berangkat bersama rombongannya, dan Maya yang tak sadarkan diri dalam perahu di pinggir pantai berhasil ditemukan setelah pencarian panjang. Wartawan yang mengikuti rombongan spontan sibuk membidikkan kamera, namun bungkam dengan tatapan dingin Masumi. Masumi menggendong Maya pulang.
Tak cukup waktu untuk pentas Shangrilla. Norie Otobe mengajukan diri menggantikan peran Ryra Miko yang seharusnya dibawakan Maya. Ia memukau banyak orang dengan aktingnya yang persis Maya. Selain itu, kecantikannya pun membuat orang-orang terpana… inikah Norie Otobe yang mereka kenal selama ini? Maya yang tersadar keesokan harinya di rumah sakit, dikejutkan dengan pemberitaan buruk di koran yang menyebutkan dirinya mabuk-mabukan dengan geng berandalan, ditambah lagi dengan berita soal Norie yang menggantikannya di panggung. Ia ingat kata-kata Norie yang memanas-manasinya mundur dari panggung.
Belum habis keterkejutannya, Masumi muncul beserta wartawan-wartawan yang sudah menunggu untuk wawancara. Masumi mendorong Maya keras-keras sampai terjatuh, menamparnya dan memarahinya di depan mereka.
“Pokoknya turuti kata-kataku,” bisik Masumi. “Semua demi kamu. Setelah ini, kamu boleh memakiku sepuasmu,” Disuruhnya Maya minta maaf pada orang-orang. Maya terpaksa mengikuti skenario Masumi, dan akhirnya menangis tersedu-sedu kehabisan kata-kata. Para wartawan yang tadinya akan menyerang Maya pun terdiam kasihan.
Setelahnya, Maya mengamuk habis-habisan, Masumi pun tak dapat membela diri. Direntangkannya tangannya di hadapan Maya. “Pukullah! Tendanglah! Sampai kamu puas. Aku tak tahu cara meminta maaf,” Ditantang seperti itu, Maya justru terdiam, tak dapat berkata-kata.
Sehubungan dengan menghilangnya Maya di pentas perdana Shangrilla, akhirnya Masumi dengan sangat terpaksa mengambil keputusan pahit; mencabut Maya dari peran Ryra Miko. TV MBA pun memutuskan kontrak Maya sebagai Satoko di Kemilau Langit, serta produk-produk yang iklannya dibintangi Maya meminta Maya mundur. Belum habis kesialan Maya, produser film yang dibintangi Satomi memaksa Satomi memutuskan hubungan dengannya. Tangga ke arah dunia bintang yang baru saja terbentuk pun luluh lantak.
Maya mencoba menemui Mayuko, namun ditolak. Rei dan teman-temannya menanyakan alasannya dan Mayuko menantang balik. “Apakah kalian melihat Maya merobek-robek surat kalian? Ketika kalian hendak menemui Maya dan ditolak, apakah Maya sendiri yang bilang begitu?” Semua tertegun. “Aku percaya pada Maya. Sampai mati anak itu tak akan meninggalkan dunia panggung,”
Maya yang kehilangan semua perannya, kembali mendapat kesempatan manggung di Panggung Athena berkat peran Masumi. Namun orang-orang di pentas itu jelas tidak menyukai keterlibatan Maya. Norie Otobe yang mendengarnya pun mengupah orang untuk kembali menghancurkan pentas Maya dengan membuat kasak-kusuk di bangku penonton. “Anak itu, supaya jadi bintang, sengaja menyebar berita ibunya hilang… lalu dengan santainya berakting di panggung!” Topeng akting Maya pun pecah, ia hanya bisa berdiri gemetaran di panggung.
Ayumi yang mendengar sabotase yang dilakukan orang-orang terhadap Maya, datang berkunjung ke TV MBA, menyaksikan akting Norie Otobe yang dikontrak sebagai Satoko menggantikan Maya. “Kasihan, dia hanya meniru akting Maya. Aku yakin dia tak akan berhasil,” komentarnya setelah melihat syuting dari ruang monitor. “MBA telah salah langkah mencabut perannya. Padahal kemungkinan besar, karena dialah sinetron ini dikenang orang, setelah habis masa siarnya sekalipun,” Orang-orang backstage yang mendengarnya jadi mempertanyakan kebenaran kata-kata Ayumi.
Ketika hendak meninggalkan studio, tanpa sengaja Ayumi mendengar negosiasi rahasia antara geng berandalan yang memasukkan obat tidur ke minuman Maya dengan produser Norie Otobe. Dari situ ia tahu Norie bertindak curang demi peran-peran Maya yang sekarang jatuh ke tangannya. Ayumi menemui ayahnya, membuat ayahnya heran akan permintaannya yang tak biasa. “Kali ini saja, aku terpaksa memakai pengaruh Papa,”
Di gedung sandiwara Plaza, sandiwara baru tengah disiapkan. Ini debut perdana Norie Otobe sebagai pemeran utama. Sebuah sandiwara horor berjudul Potret Karmila, berkisah soal seorang gadis vampir. Yang mengejutkan adalah lawan main Norie, pemeran antagonis yang menjadi vampir, Karmila… Ayumi Himekawa-lah orangnya!
Ringkasan sinopsis: Monika Tanu