Ya, dengan bantuan ayahnya, Ayumi Himekawa bisa ikut serta dalam Potret Karmila. Latihan dimulai, orang-orang dibuat heran dengan latihan Ayumi yang tampak tak biasa. “Ia tidak mengeluarkan kemampuan sepenuhnya,”
Maya menemui Masumi yang memanggilnya, menawarinya pentas di sandiwara rakyat bersama Teater Bunga. Maya menolak karena merasa tak sanggup berakting lagi, namun Masumi tetap memaksanya mencoba.
“Kamu tak akan percaya kalau kubilang ini untukmu,” katanya. “Baik, semua ini untuk Daito! Selama kontrak belum berakhir, kamu milik Daito,”
“Kalau tak mau?”
“Kamu bisa mengembalikan uang pelanggaran kontrak?”
“Licik!!!” teriak Maya.
“Itu sudah biasa,”
“Aku ingin membunuhmu!”
“Bagus. Kamu masih punya semangat. Pasti masih bisa berakting,” Masumi menyahut tenang. “Pergilah! Bawa naskah itu dan berlatihlah!”
Seperti bisa diduga, kedatangan Maya di Teater Bunga ditanggapi tak enak, bahkan Maya diejek, disiram air dan diolok-olok anggota teater lainnya.
Di gedung sandiwara Plaza, pentas perdana Potret Karmila dimulai. Banyak kritikus drama dan pimpinan media massa yang diundang hadir, membuat kegugupan Norie di belakang panggung semakin menjadi-jadi. Sebaliknya, di ruang gantinya Ayumi tampak sangat tenang. Untuk kejutan, setiap latihan kusembunyikan aktingku yang sesungguhnya… Ayumi menatap bayangannya di cermin. Akan kuperlihatkan Karmila-ku!
Ayumi tersenyum penuh arti memperhatikan Norie yang tampak gemetaran. Hari ini akan kuperlihatkan bahwa seorang aktris harus mengandalkan bakat dan kemampuannya, bukan kelicikan… akan kuperlihatkan perbedaan kemampuanku dan kemampuanmu… juga kemampuan Maya Kitajima!
Akting Ayumi sebagai Karmila memukau penonton, bahkan vampir yang seharusnya menjadi peran antagonis justru mendapat simpati. Berbeda dengan vampir menakutkan yang ada dalam bayangan orang pada umumnya, Ayumi memerankan Karmila lengkap dengan perasaan dan kesedihannya sebagai seorang gadis yang kesepian dan “terpaksa” menjadi vampir. Norie bukannya tak menyadari bahwa perhatian penonton hanya terpusat pada Ayumi, namun usahanya mendominasi berulang kali gagal. Penonton larut terbawa pesona Ayumi, sampai-sampai beranggapan bahwa pemeran lain kecuali Karmila adalah orang jahat. Mereka kecewa ketika kedok Karmila sebagai vampir terbongkar, bahkan di akhir pentas, Ayumi yang sengaja muncul dari tengah penonton untuk menghormat, memperoleh tepuk tangan yang tak putus-putus. Norie yang membungkuk di panggung bahkan terlupakan, tak satupun orang menoleh padanya. Rencana Ayumi sukses, kritikus drama tak tanggung-tanggung menyebut debut Norie gagal total.
Di sisi lain, Maya yang berusaha menjadi Kikuno di perannya dengan Teater Bunga kembali gagal. Ia tak bisa berakting, tubuhnya gemetaran, ia hanya membaca dialog dalam naskah tanpa dapat menjiwainya. Orang-orang teater mengusirnya pergi. Di tengah hujan lebat Maya mampir ke apartemen Rei dan melihat bayangan teman-temannya dari balik jendela. Ia ingat kata-kata pedas Rei yang mengusirnya di saat yang lalu. Diputuskannya keluar dari apartemen Daito, dan Masumi yang mendapat kabar dari Mizuki hanya bisa terhenyak diam.
Maya berhujan-hujanan di bangku ayunan di taman, tak tahu harus pergi kemana. Tengah malam itu, Masumi berhasil menemukannya disana. Dipaksanya Maya ikut dirinya kembali ke apartemen, namun seperti biasa Maya menolak mati-matian, sebelum akhirnya jatuh tersungkur di tanah. Masumi membopongnya pulang ke rumahnya, membuat para pelayan di rumah Hayami sibuk kasak-kusuk satu sama lain. Masumi yang sedingin es… membawa pulang anak perempuan yang basah kuyup ke rumah? Bahkan Eisuke Hayami, ayah Masumi yang tinggal di rumah yang sama, ikut dibuat heran. Apalagi mendengar bahwa anak itu adalah calon Bidadari Merah yang sedang dididik oleh Mayuko Chigusa…
“Hampir kena radang paru-paru,” kata dokter yang merawat Maya. “Dalam 2-3 hari ini panasnya akan turun. Tolong obatnya, jangan sampai lupa,”
Masumi menatap Maya yang pulas dalam piyama kedodoran miliknya.
Dadaku perih… batinnya. Padahal selama ini aku tak pernah menyesal dalam hal pekerjaan. Untuk menyukseskan pekerjaan, aku menggunakan segala cara tanpa merasa bersalah. Si darah dingin! Begitulah julukanku.
Tapi demi anak ini… Mengapa si Masumi ini… Mungkinkah aku sudah mulai gila…
Ketika pelayannya yang menunggui Maya mulai tampak mengantuk, Masumi menawarkan diri menggantikan menjaga Maya.
Maya… aku suka padamu… saat beraksi di panggung dengan begitu seriusnya, aku tertarik oleh semangatmu… untuk menyatakan perasaanku itulah aku terus mengirimimu mawar jingga. Masumi memegang tangan Maya. Baiklah, kuakui… aku mencintaimu, Maya… Aku tak ingin kau tahu perasaanku. Si keras kepala Daito… si gila kerja… si dingin… tak pernah punya rasa cinta, bintang film dan penyanyi hanyalah barang dagangan. Aku, Masumi Hayami yang tak pernah mau mengagumi siapapun… tapi sekarang hatiku tertambat pada gadis yang umurnya sebelas tahun lebih muda dariku…
Masumi duduk di sisi ranjang Maya, menenggak obat Maya dari botol, dan membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Maya… meminumkan obat dari mulutnya kepada Maya…
Keesokan harinya, Maya yang sudah sadarkan diri kembali emosi ketika Masumi menemuinya. Masumi yang bertekad mengembalikan semuanya pada Maya, setelah merasa mengambil kebahagiaannya, memaksanya kembali berakting di pentas Bunga Sumire Tiga Warna. Maya yang bersikeras berhenti berakting melarikan diri dari rumah Masumi dan berhasil mendapatkan pekerjaan membantu di TK Sakura. Namun Masumi kembali menemukannya dan membawanya pulang ke rumahnya. Maya mogok makan selama tiga hari sampai Masumi mulai menyerah.
Bahagiakah dia…? Masumi teringat senyum Maya ketika menemukannya di TK Sakura. Selama ini aku berpikir bahwa dia bahagia dengan hidupnya sebagai aktris. Masumi mulai mempertanyakan usahanya selama ini, jangan-jangan keinginannya mengembalikan hidup Maya malah membuat gadis itu tidak bahagia. Akhirnya ia menawarkan peran terakhir sebagai syarat membebaskan Maya dari Daito, peran kecil sebagai anak pengemis di pentas Kisah si Putri Malam yang Putri Malamnya diperankan Ayumi Himekawa.
Tantangan masih menunggu Maya. Di adegan sang pengemis dilempari batu, dahi Maya berdarah karena ada yang mengganti batu-batuan palsu dengan batu betulan. Begitu juga dengan kue yang nantinya akan dimakan Maya, diganti dengan bongkahan lumpur menjijikkan. Maya memutuskan tetap memakan bongkahan lumpur itu demi aktingnya, dan setelah pentas ia kembali membuat Masumi geleng-geleng kepala ketika memaksanya memuntahkan semuanya di kamar mandi.
Di lobby, Maya melihat Ayumi dikerumuni orang banyak. Di luar dugaan Ayumi menghampirinya dan mengulurkan tangan padanya. “Aku menunggumu,” Semangat Maya kembali terpacu dengan kepercayaan Ayumi itu, ia bertekad kembali menyusuri jalan menyusul Ayumi menuju Bidadari Merah.
“Bagaimana caramu menyusul Ayumi?” goda Masumi. “Tanpa modal begitu,”
“Itu urusanku sendiri!” ketus Maya.
Kebaikan Masumi tak berhenti sampai disitu. Ia menepati janjinya, mengembalikan kontrak dan mengantar Maya ke apartemennya yang dulu, bertemu dengan Rei dan teman-teman yang sudah menunggu. Bahkan barang-barang Maya sudah dibawa kembali oleh Mizuki. Maya terperangah dengan semuanya, kembali dibuat bingung oleh sikap dan kebaikan si gila kerja itu.
Kembali ke tengah teater lamanya, Maya tak begitu saja diterima oleh Mayuko. Disuruhnya Maya membersihkan namanya terlebih dulu sebelum kembali ikut pentas bersama teman-temannya. Maya kebingungan, tapi ia bertekad menemukan jalan.
Ringkasan sinopsis: Monika Tanu